Penyihir Aksara (Malaikat Salju)

Do'a Kalimat Pena By. Muhrodin "AM"

Oleh: Muhrodin “AM”*
~**~
Di hadapMu, Tuhan...
Jelaga ini menuntunku tuk merinduiMu
Jua nistaku yang tak terperi
Menawar duka yang akhirnya menyibak tirai antara cinta dan nestapa
"
Dalam rengkuhMu, Tuhan...
Relung sunyiku adalah saat bersamaMu
Menilam rindu paling ambigu, kausa nisbiku
Kutahu cintaMu tak  berbatas ruang dan waktu
"
Kepada Engkau sang pemberi cinta dan untaian air mata
Adakah rindu paling membiru hingga lukaku kini serupa sayatan sembilu?
Aku mengeja namaMu di setiap hembus napasku
Dalam seduku,
Aku (teramat) merinduMu...


PPAI, 02 Syawal 1435 H.

~**~
Judul             : Kupersembahkan Cintaku
“Meski aku tak sesempurna yang engkau impikan...”
Penulis         : Anung D’Lizta, Mulyoto M, Ade Ubaidil, Rere Zivago, Rusdi El Umar, Nenny Makmun, Nasta’in Achmad Attabani, Welly Eka S, Syefrianidar
Editor                       : Anung D’Lizta
Penerbit       : 2A Dream Publishing
Tahun Terbit          : 2014, Maret
Tebal Buku : 146 Halaman, 13x19cm

Sinopsis:
Diam. Beku. Terlebih Delizta. Dia menahan hening di kedua bola matanya. Pasti sakit setelah mengetahuinya. Delizta tidak menyahut lagi. Dia pergi dengan sesal dan air mata. Pasti dua wanita itu sedang menyalami hati masing-masing. Aku tahu Delizta cukup dekat dengan... [Terang – Anung D’Lizta]
Tapi, tiap kali teriakan-teriakan itu berubah menjadi keluhan, aku segera menepis perasaanku dan kembali untuk mencoba tegar. Ya, aku ingin menjadi lelaki tangguh yang pantang mengeluh. [Impian Berbalut Cinta – Mulyoto M.]
“Subhanallah, kakiku gemetar nih, Yan. Sayang aku tidak mampu melihat foto itu. Pantas sejak tadi aku merasakan kehadirannya, Yan. Aku benar-benar tidak menyangka, Yan. Impianku dengan...” [Majid dan Lelaki Itu – Ade Ubaidil]
Air mataku mulai mengucur deras, aku terisak. Ya Allah, tolonglah selamatkan Bapak...
Seperti kaleidoskop beberapa peristiwa di layar televisi pada akhir tahun, aku mengingat dengan jelas percakapan terakhirku dengan Bapak. [Wing Of A Dream – Rere Zivago]

Sayap Mimpi yang Menginspirasi

Kehadiran Cerpen Dream Award yang ditulis oleh 9 penulis hebat ini tampaknya bisa menjadi penawar kerinduan terhadap kumpulan cerpen berkualitas, dan lebih dari itu, Antologi cerpen yang berjudul ‘Kupersembahkan Cintaku’ ini begitu mampu menyulut percikan api semangat dalam mengarungi samudera kehidupan.
“Terang”, sebuah cerpen yang ditulis oleh seorang wanita bermata do’a; Anung D’Lizta, adalah cerita yang sangat asyik dan menarik untuk ditelisik. Cerpen ini mengisahkan seorang wanita yang memiliki hati berbalut kasih-sayang dan cintaNya. Wanita yang sikap dewasanya mampu melawan cabikan kerasnya tangan dunia;  wanita yang begitu tegar menghadapi terpaan badai sasmita. Adalah Kenangi, yang melahirkan seorang anak dari ayah sahabatnya yang dalam diam mencintainya.
Selain cerpen karya Anung D’Lizta tersebut, karya Mulyoto M. Yang berjudul “Impian Berbalut Do’a” juga tak kalah keren. Cerpen ini berkisah tentang seorang penjual bakso dorong di Alun-alun Kota. Dengan semangatnya yang penuh, akhirnya Zai, yang dalam harapnya menjadi lelaki tangguh yang pantang mengeluh bisa melewati masa-masa sulit yang sempat menghalang-rintangi hubungannya dengan kekasihnya, Nisa. Kisah ini sungguh romantis dan amat menggigit!
‘Kehadiran lelaki itu setidaknya menyembuhkan luka dan menggantikan sepi yang selama ini selalu menemani kesendiriannya.’ –Kutipan Cerpen Ade Ubaidil yang berjudul “Majid dan Lelaki Itu” hal. 55.
Ada haru dan binar bahagia ketika Majid --seorang bocah kecil dengan seperangkat alat semirnya-- diajari bermain gitar oleh Lelaki yang menemuinya di bawah lampu  jalanan. Ia yang memiliki mimpi sederhana; bisa bersenandung bersama dengan penyanyi idolanya, tak pernah menyangka, bahwa Lelaki yang menemaninya di taman senja dan yang mengajarinya bermain gitar itu adalah Bang Iwan Fals, yang tak lain adalah sang penyanyi faforitnya. Sebuah cerita yang cerdas dan fantastis.
Antara cita-cita dan cinta. Sebuah kisah yang tertuang dalam cerpen “Wing Of A Dream” rajutan Rere Zivago, di sinilah cinta dan cita-cita Ratna dipertaruhkan. Impiannya menjadi Dokter hampir pupus dan tenggelam karena sebuah keinginan untuk menikah dengan seorang laki-laki impian yang ternyata hanya laki-laki pecundang.
Quote Puspitasari di halaman 84, Impian itu seperti sayap, dia akan membawamu pergi ke berbagai tempat. Akhirnya, Ratna --si tokoh utama-- melepas laki-laki (bukan) impiannya, dan mengejar mimpinya demi membahagiakan ke dua orangtuanya. Temukan quote-quote indah di dalamnya.
Demikian pula, cerpen-cerpen lainnya yang terangkum dalam buku “Kupersembahkan Cintaku”, Kumpulan Cerpen  Dream Award pilihan 2A Dream Publishing, tak kalah apik dan menarik. Hingga setelah mengkhatamkan bukunya, tak hanya pengalaman inspiratif serta semangat menggapai impian yang didapatkan, melainkan juga taburan hikmah bak mutiara di dasar laut karam sehingga kita akan membangun tekad untuk menjadi insan yang lebih baik di mata Tuhan. J
Jangan puas hanya menjadi sang pemimpi, tapi berdo’a dan berusalah agar impian-impianmu menjadi kenyataan.
Akhirnya; Kupersembahkan Cintaku. “Meski aku tak sesempurna yang engkau impikan...”
~**~
Salam Pena!
Muhrodin “AM”
Penjara Suci, 25 Juli 2014*


By. Muhrodin ‘AM’
~**~
             Marhaban yaa syahru ramadhan | Marhaban syahru sa'adah | Marhaban syahrul 'ibadah | Marhaban yaa khaira khalkillah... 'alimu sirri wa akhfa | Mustajibu da'awati | Robbi farhamna jami'a | Bijami'i sholihati...

            Selama kurang-lebih tujuh tahun kudengarkan sholawat itu. Sungguh ada getar rindu yang menelisik di kedalaman lubuk hati; rindu pada Rabbku, dan juga rindu pada Nabiku.
            Ramadhan ini mungkin tak seperti ramadhan-ramadhan kemarin; di mana segalanya --menurut kebanyakan santri-- begitu indah; begitu bebas dan begitu menyenangkan. Meski tak kupungkiri; demi Tuhan yang diriku dalam kekuasaannya. Ramadhan ini masih tetap sama; masih ada rindu, jua kedamaian  dan keteduhan yang tak seharusnya kudustakan.
            Meski peraturan di pesantren kini tak seperti dulu lagi; tak ada istilah makan di luar, karena di berbagai penjuru pintu telah digerbang dan dijaga ketat oleh keamanan. Namun sungguh, aku masih merasakan bahagia ini yang sampai tak bisa ternamai.
Kepengurusan pesantren ramadhan ini benar-benar telah diubah total, komplek mahasiswa yang kini kusinggahi telah berganti didomisili oleh santri baru tingkat MA dan SMA. Banyak teman-teman yang kalangkabut menghadapi situasi seperti ini; di mana sisi kedamaian hendak kami cari (lagi)? Ah, kembali berkaca pada jiwa, bahwa hakikatnya kami semua di sini hanya numpang, niat mesantren untuk menuntut ilmu, bukan untuk yang lain. Segala yang ada harus kami jalani dengan lapang dada...
Alhamdulillah, aku masih bisa tinggal di tempat persemayaman paling damai. Bukan tanpa alasan, kawan, karena santri baru juga butuh pembimbing yang harus mengarahkan segala hal-ihwal tentang kegiatan-ma’murat dan manhiyat yang berlaku di pesantren tercinta ini.
Mulai dari ba’da maghrib setelah jama’ah, ada kegiatan darusan al-Qur’an, sholawat nariyah, dilanjutkan setoran wajib sholawat munjiyat bagi santri-santri baru komplek Sabilul Hidayah. Kemudian jama’ah sholat isya dan sholat tarawih.
Rof’ul Haroj adalah kitab yang aku kaji ba’da sholat Tarawih kepada KH. A. Shoim el-Amin, Lc. Kitab ini mengkaji tentang hadits kontemporer; masalah-masalah yang kita hadapi di zaman android ini. Sedang untuk santri-santri baru mengkaji makhorijul huruf, belajar menulis arab pegon dan praktik ibadah kepada ustadz-ustadz yang telah ditentukan.
Ramadhan ini sungguh, aku harus banyak-banyak bersyukur kepada Allah SWT; karena segala cinta dan kasih-sayangNya begitu dekat kurasakan. Kami menyiapkan makanan buka-sahur untuk santri-santri baru, meski terkadang miris karena lauk yang sangat seadanya --yang mungkin bagi mereka sungguh belum terbiasa--; namun di situlah sejatinya aku dapat merasakan bahwa mereka adalah santri yang luar biasa.
Terlebih ketua staff kami yang tak pernah tidur demi tanggung jawabnya, dia adalah gus, seorang putra kiyai yang rendah hati, sabar, dan penyayang kepada semuanya. Semoga kelak Allah benar-benar  menempatkan beliau disebaik-baik tempat di sisiNya. Aamiiin...
Aku bahagia, ramadhan ini sungguh penuh makna. Bisa bersama-sama santri baru mendekatkan diri, bermunajat di sepertiga malam yang sunyi. Berharap jika ramadhan esok aku memang benar-benar sudah tak bisa menghirup udara di pesantren lagi, Allah akan tetap menjaga dan menuntunku di jalan yang diridhoi. Aamiiin...
Terimakasih, Tuhan... karena ramadhan ini Engkau masih memberiku ketetapan iman dan islam; memberiku cinta dan kasih-sayang, keteduhan dan kesejukan selaksa telaga al-Kautsar. []
PPAI, 04 Juli 2014/ 06 Ramadhan 1435

Muhrodin.am@gmail.com

By. Muhrodin “AM”*
~**~
            Yaa robbana dzholamna angfusana wa illam taghfirlana watarhamna lanakuu nanna minal khosirin...

            Usai sudah latihan khataman al-Qur’an binnadzri dan Juz ‘amma bilkhifdzi. Sudah H-7 Haul[1] KH. Badawi Chanafi dan Ultah Pon-pes Al-ihya ‘Ulumaddin, namun al-Qur’anku belum juga khatam. Jujur, aku tidak tahu harus mulai dari mana? Aku sudah berhenti sejak setahun lalu ketika aku KKN, dan baru kali ini keinginan itu kembali menggebu; aku ingin ikut khataman.
            Bukan tanpa alasan aku belum mulai setoran al-Qur’an (lagi), kawan, selain karena belum hafal juz 30, juga karena tak ada sedikit keberanian untuk sowan[2] kepada ustadz yang menjadi guru setoranku. Dan kini, lagi-lagi aku alpa.
            “Jangan sampai ketika malam khataman, kalian belum khatam al-Qur’annya, karena itu sama saja kalian membohongi ribuan jama’ah yang hadir di acara Haul Masyayikh[3] nanti.”
            Kata-kata ustadz Faishal selaku pengampu khataman al-Qur’an kami masih terngiang jelas di telingaku. Aku takut jika hal itu akan terjadi pada diriku, meski tak kudustakan setiap nikmat yang telah Tuhan berikan; jujur, ini adalah rencana khatamanku yang ke empat kalinya. Karena kecintaanku terhadap al-Qur’anlah, aku ingin ikut khataman (lagi), lagi, dan lagi.
            Dan alhamdulillah, atas kuasaNya, pada hari ke dua sebelum acara Haul berlangsung, aku bisa mengkhatamkan al-Qur’anku. Sungguh, bahagia itu menguasai segenap hati dan jiwaku. Meski saat itu aku menjadi koordinator kesehatan di panitia Haul dan Ultah pesantren, yang satu minggu sebelum acara berlangsung sudah harus menyiapkan banyak hal, Juga harus wawancara dan sowan-sowan ke sana ke mari untuk mengumpulkan data dan naskah majalah yang diagendakan terbit untuk edisi Haul, namun aku tak melalaikan kewajiban dan tanggung jawabku sebagai santri yang ingin mengikuti khataman; bersungguh-sungguh dan terus bersabar untuk mencapai kesuksesan.
            Malam di mana menjadi malam istimewa bagi santri-santri yang ikut khataman, aku merasakan sisi kedamaian dan kebagaiaan yang selama ini kudambakan.
Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?[4]
Akhirnya, Di saat-saat seperti inilah aku harus banyak bersyukur karena bisa melakukan yang seharusnya aku lakukan, menanam kebaikan dan meretas keridhoan Tuhan lewat ayat-ayat keagungan.

PPAI, 05 Juli 2014 / 06 Ramadhan 1435




[1] Peringatan wafatnya seorang ulama
[2] Sama dengan berSilaturahim
[3] Pendiri Pondok-pesantren


[4] Al-Qur’an surah Ar-rahman ayat 13

By. Muhrodin “AM”*

Malam menyepuh rindu, suasana di Pondok pesantren Nurul Iman tampak begitu sepi. Aku masih duduk termenung, pikiranku melayang jauh ke seberang lautan, mencari satu titik cahaya kedamaian...
“Fathan ingin seperti kakak yang bisa mondok di tanah jawa,” pintaku pada ummi ketika sedang berada di ruang tamu.
“Ummi sangat senang mendengarnya, tapi apa Fathan serius benar–benar mau mondok?” tanya ummi, pelan kepadaku.
“Iya, Ummi. Fathan benar–benar serius mau mondok, Fathan ingin seperti kak Faris yang bisa menghafal dan menjaga al-Qur’an. Ummi terdiam sejenak demi mendengar perkataanku yang terakhir.
“Fathan, menjadi seorang hafidz itu tidak mudah, banyak godaan dan cobaannya, apa kamu mampu, sayang?” Tanya ummi bijak dengan penuh kelembutan.
 “InsyaAllah, Ummi. Dengan usaha dan do’a restu dari Abah dan Ummi.” Kataku sedikit meyakinkan.
“Jaga diri kamu baik-baik, ya, Nak. jangan pernah menyerah untuk terus berusaha dan berdo’a kepada Alloh SWT. Nasihat ummi masih terngiang jelas di telingaku.
***
Suasana malam ini begitu dingin, tampaknya kabut malam masih menyisakan ritik-rintik air hujan. Setelah selesai sholat tahajud, aku sempatkan untuk berdo’a kepada Tuhan.
“Allohumma nawir qulubana, wa qulu bahum, binnuril ‘ilmi wal hidayati wal hikmah.
Selanjutnya seperti biasa, aku pun mulai tenggelam dalam buaian ayat-ayat suci Al-Qur’an yang akan kucoba untuk kugenggam dalam hati dan pikiran. Setelah itu, kami pun simakan secara bergantian. Begitulah seterusnya, hingga acara Haul dan Ultah Pon-Pes Nurul Iman tinggal satu minggu lagi.
“Fathan...”
Tiba-tiba suara ummi yang begitu lembut terdengar jelas di telingaku.
Bagaimana kabarnya sayang? Tentu baik-baik saja, ‘kan? Umi sama Abah mau minta do’a dan restunya, insyaAllah besok Ummi mau berangkat ke tanah suci.
Aku hanya diam tanpa bisa berkata apa-apa, hanya mataku yang terus memandangi wajah abah dan ummi yang tampak arif dan lebih bercahaya dengan pakaian ihramnya. Dengan tatapan kasih seorang ibu kepada anaknya ummi pun kembali berkata, “Ummi bangga dan sangat bahagia, akhirnya kamu dapat mewujudkan impianmu untuk menghafal dan menjaga al-Qur’an. Istiqomahlah dalam menghafalkan dan menjaganya, sayang. Do’a Abah dan ummi selalu menyertaimu.
Perlahan-lahan bayangan abah dan ummi pun menghilang bersama dengan tangan Ilham yang mencoba membangunkanku untuk melaksanakan qiyamul lail.
Astahgfirullohal’adzim…” ucapku lirih setelah aku tersadar dan mengerti kalau semua itu hanyalah mimpi.
“Ada apa, Than?” tanya Ilham setengah terkejut.
“Gak ada apa-apa kok, aku cuma bermimpi.
 “Oh, ya sudah kalau begitu, aku ke masjid dulu ya?”
Aku hanya menganggukkan kepala sembari melihat Ilham hingga  menghilang di balik pintu, aku masih sempat memikirkan arti mimpiku itu, sebelum akhirnya aku pun segera mangambil air wudlu menyusul Ilham untuk kembali menghafal kalam-kalamNya.
***
Hari telah berganti, Ilham tampak bahagia karena telah menyelesaikan hafalan al-Qur’annya disusul Rizal. Namun aku semakin bingung memikirkan hafalanku yang baru juz 27 surat ar-Rohman.
“Yakinlah pasti kamu bisa, kawan. Support Rizal ketika melihat aku yang masih duduk termenung di depan masjid sambil menikmati suasana malam.
“Kita harus berusaha untuk meraih kesuksesan dan kabahagiaan itu bersama-sama.” Kata-kata Ilham mencoba menguatkanku.
“Iya, terimakasih, kawan, aku akan terus berusaha demi untuk sebuah cita-cita yang mulia, karena aku tak ingin mengecewakan kalian, jawabku semangat. J --Terlebih tak ingin mengecewakan Abah dan Ummiku-- batinku dalam hati.
Ya Allah, Engkau telah mempercayakan hamba untuk menghafal dan menjaga kalam-Mu. Maka, ridloilah dan lindungilah hamba dan keluarga hamba dari siksa api neraka, Robbana atinaa fiddunya hasanah wafil akhiroti hasanah waqinaa ‘adzabannar.
***
Acara Haul dan Ultah Pon-pes Nurul Iman kini telah tiba, halaman Pon-pes yang untuk menyambut para tamu, wali santri dan alumni pada acara khataman dan pengajian akbar malam nanti terlihat begitu meriah. Aku mulai tak sabar untuk menunggu kedatangan abah dan ummi, ketika kulihat para wali santri sudah banyak yang hadir, termasuk keluarga Ilham dan Rizal, semuanya sudah berada di kamar tamu, mereka tampaknya begitu bahagia bisa berkumpul dengan keluarganya.
Sebelum acara khataman belangsung, aku dikagetkan oleh suara Ustadz Mamun yang memanggilku lewat Microphone kantor Secretariat. Aku pun segera menuju kantor secretariat dan menemui beliau.
Assalamu’alaikum.
Wa’alaikum Salam,” suara ustadz Mamun terdengar begitu pelan.
“Ada apa, Ustadz?” Tanyaku gugup, ketika sudah bertemu dengan beliau
“Muhammad Fathan Haidar, maaf sebelumnya, tadi Abah panjenengan telphone, dan katanya beliau tidak bisa datang untuk menghormati acara khatamanmu.”
Lho, kenapa Ustadz?” Tanyaku masih belum mengerti
Ibumu kecelakaan di Banten, ketika hendak berangkat ke sini.” Jawab Ustadz Ma’mun sembari memegang pundakku, dan mengusap rambut belakang kepalaku.
Detak jantungku semakin kencang saat aku mendengar kata-kata itu,  aliran darahku serasa berhenti, seakan aku tak mempercayai semua itu.
 Innalillahi wainna ilihi roji’un,” ucapku lirih, dan tak terasa butiran kristal bening telah menetes membasahi pipiku. Aku benar-benar tak kuasa untuk menopang tubuhku, dan seketika itu pula, kurasakan semuanya berubah menjadi gelap...

PPAI, 22 Juni 2014*

*Cerpen ini terangkum dalam buku Antologi FF Warna-warni di Pesantren #1 Pena Indis - 2014*

X-Steel - Link Select

About this blog

Diberdayakan oleh Blogger.