Penyihir Aksara (Malaikat Salju)

Do'a Kalimat Pena By. Muhrodin "AM"




Oleh: Muhrodin “AM”*

Langit mendung. Tak ada mentari yang menyinari pagi ini. Hawa dingin sedari shubuh tadi memelukku yang termangu dalam kamar sepi. Masih seperti hari minggu-minggu yang lalu, bahkan sama, seperti saat ayah masih ada. Saat cerita ini bukan tentang sepenggal kisah perjalanan tentang duka-lara –Nestapa-.
Setelah melaksanakan ibadah shalat shubuh, --sebelum membantu ibu menyiapkan sarapan pagi-- aku senang duduk-duduk di kursi dekat jendela. Menikmati kicau burung yang sesekali hinggap di ruang dengarku. Membaui sepucuk embun yang begitu menyejukkan. Atau, menikmati rintik hujan yang jatuh di pelataran, seperti pagi ini.
Dinda, adikku yang pertama, diminta ibu untuk menemani si kecil Rafi. Sedangkan  Dani, adikku lagi yang masih duduk di bangku kelas tiga SD, masih asik menekuri mimpi. Pada hari minggu seperti ini, ia akan terbangun jika ibu sudah sempurna menyiapkan sarapan pagi.
“Rani, bantu ibu memasak,” suara Ibu mengagetkanku. Dari luar jendela, terlihat hujan masih seperti serpihan salju yang jatuh satu-satu.
“Iya, Bu.” Jawabku, bergegas meninggalkan lamunan sepi menuju dapur.
Hari ini, ibu hanya memasak sayur kangkung dan beberapa potong mendoan yang dibelinya di warung Mbok Kaji. Sejak kepergian Ayah beberapa bulan lalu, kami seringkali makan seadanya. Tak seperti dulu, saat ayah masih tinggal bersama kami, seolah, apa pun yang kami maui selalu dituruti.
Beberapa bulan ini pula, ibu selalu berusaha terlihat tegar, meski kami –anaknya- tahu, betapa hati ibu bagaikan serpihan-serpihan daun kering yang diterbangkan sang angin. Ayah pergi meninggalkan kami semua, tanpa kabar. Setelah usaha yang dirintisnya bertahun-tahun bangkrut. Terakhir, ayah memukul ibu saat ibu hendak melarang ayah untuk pergi. Ayah tak menghiraukan rintihan ibu yang memohon agar ayah tetap tinggal di rumah, demi anak-anak. Pada saat itu, aku hanya bisa bungkam, menahan tangis, mendekap adik-adikku yang meringkuk di kamar ketakutan.
“Bu, kapan ayah pulang?” tiba-tiba, suara Dani yang barusaja bangun tidur, langsung menyentak jantungku. Bukan tentang aku, tapi tentang perasaan ibu yang selama ini berusaha tegar di depan anak-anak. Yang pada setiap pertanyaan, ibu selalu menjawab, “Pasti ayah akan pulang, Sayang.” Meski aku tahu, ibu tak benar-benar yakin dengan kata-katanya sendiri. “Bersabarlah… do’akan semoga ayah baik-baik saja, ya?” Selalu saja begitu, kata-kata ibu untuk menghibur hati Dani dan Dinda pada saat mereka tengah merindukan kasih-sayang seorang ayah.
Bukan aku tak merindukan ayah, hingga selama ini aku jarang, bahkan hampir tak pernah menanyakan kabar ayah kepada ibu. Setiap kali pertanyaan itu hendak meluncur, selalu saja kutahan, aku selalu membiarkan pertanyaan dan kerinduan ini menjadi do’a dan kenangan yang paling usang, seperti hati ibu yang betapa sedih dan perihnya saat harus menerima kenyataan; ditinggalkan, dengan menanggung segala beban yang tak seharusnya ia pikul sendirian.
“Dani, cuci muka dulu, ya? Setelah itu, Dani makan sama Mendoan.” Bujukku, mengalihkan pertanyaannya.
“Kak, ayah pergi ke mana, sih? Kok nggak pulang-pulang?” Tanya Dani, lagi. Aku menghentikan langkah, memegangi pipi Dani dengan berjongkok untuk mensejajari tubuh kecilnya.
“Ayah lagi ada pekerjaan, Dani. Ayah sedang sibuk. Sedang ada tugas dari kantor.” Jawabku, dengan senyum yang kubuat-buat, meski nyatanya, harus kuakui, yang ada di sebilik hati ini adalah rasa nyeri.
“Tugas dari kantor, kok, lama? Biasanya juga kalau ayah ada tugas, ayah selalu telepon Dani.” Katanya, lagi. Yang akhirnya kutanggapi dengan membawa Dani cepat-cepat ke kamar mandi untuk segera cuci muka dan setelah itu mengajaknya duduk di meja makan.
“Dani sekarang makan dulu, ya? Ada mendoan sama sayur kangkung masakan Kak Rani. Pasti enak sekali. Kakak panggil kak Dinda dulu sebentar.” Aku segera melesat menuju kamar ibu. Menyuruh Dinda untuk makan bersama Dani.
Adik kecilku Rafi menatapku, lucu. Binar matanya mengingatkanku pada mata ayah. Beningnya selaksa telaga teduh, jernih, seperti air hujan yang datangnya selalu kurindukan.
Aku mencium bau kenangan di tubuh mungilnya. Kenangan bersama ayah sewaktu kecil dulu, ayah selalu mengajakku berjalan-jalan melihat pelangi setelah hujan, menikmati pemandangan, daun-daun sepi, serta tetes hujan hingga senja membawanya pada pelukan malam.
‘Ayah, di manakah ayah sekarang?’ sebuah pertanyaan yang harus kutelan dengan pahitnya rasa kenyataan. Seperti kata ibu, saat beliau menumpahkan segala perihnya di hadapanku lewat ceritanya yang pilu.
“Ayahmu mustahil untuk kembali, Rani. Ayahmu pergi dengan perempuan lain. Keadaanlah yang menjadikannya buta. Setelah ayahmu bangkrut, perempuan itu mengajak ayahmu menikah dan meninggalkan keluarga kita.” Terang ibu, dengan mata yang berkaca-kaca.
Aku hanya diam tanpa kata, pun tak pernah bertanya masalah yang terjadi sebenarnya antara ibu dengan ayah. Aku cukup menjadi pendengar setia di setiap cerita yang ibu curahkan saat hati ibu benar-benar merasa nelangsa, merasa terluka tanpa pernah menemukan penawarnya.
Terlebih, akhir-akhir ini, Rafi sering menangis tanpa sebab. Dinda dan Dani juga sering marah-marah karena tidak ada makan siang yang biasanya –saat ayah masih ada—makan siang selalu terhidang di meja makan.
Ibu linglung. Dalam bingung yang buntung.
Aku pun terkadang menangis tanpa suara saat tiba-tiba sekelebat wajah ayah hadir di pelupuk mata. Saat pagi menyapa, saat hujan turun tiba-tiba, saat aku tengah duduk di kursi kamar yang menghadap ke pelataran. Kenangan semasa masih bersama ayah seketika menancapkan silsilah rindu yang begitu perih.
“Kamu harus menjadi perempuan yang kuat, Rani. Kamu harus sukses, demi adik-adik kamu. Demi masa depan kamu.” Kata ibu, saat kami tengah sama-sama menikmati ricik hujan yang berbisik.
“Iya, Bu. Rani janji akan menjadi perempuan hebat, yang sukses, demi keluarga kita. Demi ibu, demi Dinda, Dani, juga demi Rafi.” Aku tak tahu, dengan cara apa dan bagaimana akan mewujudkan semua impian itu. Aku hanya ingin, Tuhan memberikan jalan paling istimewa untukku menapaki jejak cinta dan cita-cita.
“Maafkan Ibu, Rani.” Ibu memelukku, tak seperti biasanya. Ibu selalu tegar sekalipun dalam keadaan hati paling cabar. Tapi kali ini? Aku terhanyut dalam suasana, perlahan, airmataku menitik membasahi baju ibu.
“Ibu, Rani mau siap-siap berangkat sekolah dulu.” Akhirnya, kusudahi kecamuk dalam hati ini. Aku ingin menjadi laut, yang mendamaikan. Yang memiliki hati setegar karang, saat gelombang ujian dan cobaan datang meluluhlantakkan kehidupan.
Ibu Nampak lebih murung, tak ada seutas senyum yang menghiasi bibirnya, pandangannya kosong. Kuambilkan ibu segelas air hangat, sebelum akhirnya kutinggalkan ia bersama kenangan yang berserak.
***
Hujan turun sejak beberapa menit lalu. Suasana tampak sepi. Tak ada suara Dani yang biasanya tengah bermain bersama Dinda. Pun tak ada tangisan Rafi yang jika tengah kelaparan, lengkingannya begitu menyayat hati.
Aku mulai melangkahkan kaki menuju pintu rumah yang hanya tinggal beberapa hasta. Di antara kepingan mimpi yang kubawa dari sekolah, ada yang tiba-tiba terasa belah, saat mata ini harus menyaksikan sesuatu yang tak pernah sedikit pun kubayangkan.
Dani dan Dinda tergelatak di meja makan. Tak ada lagi deru napas di antara dua anak yang tak berdosa. Pun saat aku mengetahui, adik kecilku Rafi sudah tak bernyawa lagi.
“Tidaaakkk!!!” Aku menjerit, perih! hatiku benar-benar limbung seperti rumah yang dihantam angin halimun.
“Ibu, ibu, ibu….” Aku mencoba berteriak mencari sosok ibu di setiap ruang sempit yang ada di rumah ini.
“Ibu?” seketika, persendianku beku. Aku tak dapat bergerak lagi saat kudapati ibu menggantungkan diri di kamar sepi; mulutnya terbuka, matanya, seperti  menyimpan dendam masa lalu yang teramat mengerikan. []

Al-Ihya ‘Ulumaddin, 08 Oktober 2016*



Untukmu yang Kusayangi dari Awal Hingga Akhir
Oleh: Muhrodin “AM”*

Pada akhirnya, sekuat apa pun kita bertahan
Seribu pelukan akan tetap menguap jika dihadapkan dengan perpisahan, bukan?
Ingatkah engkau, saat-saat kita tak lagi saling menyapa
Adakah yang lebih menyakitkan daripada pertemuan yang akhirnya saling berjauhan?
Seibarat waktu fajar hingga matahari tenggelam,
Kebersamaan kita menyisakan rasa yang
Adalah suka-duka dan selebihnya,
Kehilangan adalah rasa yang akan segera melibas kebersamaan; kita...
Di pagi yang tak lagi menyisakan embun
Engkaupun lindap ditelan biji-biji hujan
Hingga...
Tubuhmu semakin luruh
Kemudian, hilang dari netra muram yang telanjang
Tak ada yang ingin kulangitkan, lagi...
Untukmu, seseorang yang kusayangi dari awal hingga akhir
Tersebab kutahu, perpisahan tak lagi mampu untuk dijedda, untuk dieja...
Dan, mungkin saja hanya ini...
Mendo’akanmu adalah caraku (untuk) memelukmu dari kejauhan...

 
Al-Ihya, 29 Juni 2016*
Muhrodin “AM”
Laki-laki penyuka senja dan hujan, terkadang juga penyuka kesendirian setelah bersama teman-teman tersayang, baginya berdo’a adalah cara terbaik untuk jatuh cinta sekaligus mendo’akannya dari kejauhan. J ;)


“Selamat Jalan, Kawan; Semoga Selamat Sampai Tujuan”
(Happy Birth Day; Wish U All The Best)
Oleh: Muhrodin “AM”*

Sudah lama sekali aku tak menulis, bahkan sejauh Ramadhan ke-17 ini, aku hanya menulis status Facebook, :v
Kali ini, ingin sekali aku menulis status Facebook (lagi), tentang seorang kawan yang hari ini pulang ke kampung halaman, Bandar Jaya, Lampung.
Pulang
Apa yang kau pikirkan saat mendengar kata itu, Kawan? Mungkin biasa saja. Ya, biasa saja. Tapi tidak untukku, terlebih di akhir-akhir Ramadhan seperti ini. Bukan apa-apa, mungkin karena aku adalah satu dari sekian juta orang yang jauh dari orangtua saja, atau, mungkin jua karena melihat banyak teman-teman yang ‘pulang’ setelah sekian lama berjibaku dengan kegiatan Pesantren. Terlebih saat ini adalah masa-masa liburan, kata ‘pulang’ menjadi begitu sakral untuk didengarkan.
Kemarin, saat aku sedang dilema, curhat sedikit nggak apa-apa, ya? :v ;)
Antara menemani orang sakit, atau menemani orang membeli tiket Bus di Sampang. Namun aku memutuskan mengantar teman membeli tiket, karena memang sebelumnya aku telah meng-‘iya’kan ajakannya sejak beberapa hari lalu.
Setelah pulang beli tiket, tahukah kamu, Kawan? Aku sakit... (Sekali lagi ini sekadar cerita saja lo, ya, dan bukan berarti apa-apa, ;) )
Mungkin benar, ya? Kamu malu banget saat kita nyari Dodol di Pasar Sampang gara-gara aku kayak orang bego. :v plin-plan banget, yakin! Itu karena... aku tuh nggak level nyari sesuatu di Pasar lo*k begitu. ;) nyatanya, setelah kita beralih ke tempat yang lebih berkelas macam BJ (B*rk*h J*ya) gwe smart banget, bukan? Jhahaha... [*Ketawa jahat] :v ;) (*Yang ini abaikan, ya... aku hanya ingin mengingat saat kamu merasa sensi sama aku, bukan saja saat-saat kamu kangen sama aku, #Eaaaax... :v ;) )
Kita kembali ke Pesantren tepat saat teman yang sakit sudah pulang sekitar tiga menit yang lalu, betapa sebenarnya saat itu aku sangat sedih, tapi Tuhan memang selalu mengerti dan memberikan yang terbaik buat semua hamba-Nya, bukan? Mungkin memang aku disuruh untuk istirahat dengan tenang dan damai. ;)
Kepalaku berasa mau pecah! Ini bukan hal yang luar biasa sebenarnya, karena dari dahulu kala, aku memang sering sekali merasakan hal serupa. Tapi saat itu kita ‘kan sedang puasa, jadi aku tak bisa minum obat hingga adzan Maghrib tiba.
Saat malam mulai menyapa, seorang teman dengan hati yang ‘galau’ tiba-tiba datang ke kamar; curhat tentang perasaannya yang nano-nano, J
Malam itu, kebetulan dia mau ulang tahun yang ke-22, tepat tanggal 22, dan tepat malam Nuzulul Qur’an, speechless, lah! Tapi tahukah kamu, Kawan, apa yang kita lakukan? Kita merayakan ultahnya dengan main Po*er sampai pagi. Ini keren, ‘kan? :v (Dengan dilanjutkan makan-makan dan selfie-selfie ala artis-artis korengan, *Cmieeuww ;) ) ide ini dari seorang teman yang katanya juga sedang kesepian karena ditinggal pulang, uhuk! Nggak nyangka aja, seorang dia bisa #Baperan. Ahaha... *peace. :v ;)
Aku tidur sampai bablas tidak makan sahur, sekalipun sebenarnya waktu makan-makan perayaan ultah itu juga sudah diniati makan sahur.  #eh. ;)
Seharian mati lampu, nggak tahu PLN lagi ngambek gegara apa, tapi aku jadi nggak bisa update status Facebook hingga sesorean ini. Aku ingat, bahkan ingat sekali, Kawan... jika hari ini kamu akan pulang ke Lampung. Aku ingin sekadar mengucapkan “Selamat Jalan, Kawan; Semoga Selamat Sampai Tujuan” tapi nyatanya, aku juga masih diresahkan dengan ATM yang ke-Blokir beberapa hari lalu, heuuwh! Akhirnya aku memutuskan untuk jailin teman yang kebetulan kepo di kamarku, saat tiba-tiba... ada pesan masuk di Handponeku, “Sini, Din. Ke Aula.”
Aku langsung ke Aula untuk mencarimu, aku pikir ceritanya akan sampai di situ, pamitan-berangkat, kemudian, end. Tapi nyatanya tidak. Aku diajak mengantarkan sampai ke Sampang bersama teman-teman pakai #TosaMa’had, ;)
Di sepanjang perjalanan, kami selfie-selfie (lagi), dengan sesekali bercanda, saat itu, tahu nggak, kamu keliatan sedih banget mau ninggalin Al-Ihya, jhahaa... benar memang kata seorang teman RQ; ‘Hati-hati, Al-Ihya selain bikin kangen, juga bikin susah Move On, Loh. #Lol.’ :v ;)
Setelah sampai di Agen Bus, kami prepare buat #BukaBareng, gelar karpet di depan rumah orang; beli lauk di Lamongan, beli Gethuk Sokaraja, Minuman, dll. J (Oya, kita juga sudah bawa nasi Rames yang sore tadi telah disiapkan oleh pengurus pusat di kantor Sekretariat, J )
Sambil menunggu Bus datang, kami buka puasa, shalat Maghrib, dan selfie-selfie (lagi) ;)
Sekitar dua puluh dua menit, akhirnya Bus yang ditunggu-tunggu datang juga, (Tahukah kamu, Kawan, pada saat itu sebenarnya aku mulai #Baper, :’( ), kamu menyalami teman-teman satu per satu, kemudian masuk ke Bus. (Aku tak tahu saat itu apa yang kamu rasa, mungkin kamu juga #Baper, atau malah mungkin saja kamu sedang Me-Na-Ngis, ya? Ahaha.... *peace ;) )
Hati-hati, ya; semoga selamat sampai tujuan... begitulah kurang lebihnya kata-kata yang kami beritakan sebelum kamu benar-benar lenyap dibawa Bus Family Raya.
Kami melangkah pergi menuju palkiran #TosaMa’had, sebelum akhirnya aku mengirim pesan via Sms agar kamu keluar sebentar dari Bus. Dan, (aku yakini pasti saat itu kamu teramat-sangat berat untuk pulang meninggalkan Ma’had, bukan? :v ;) )
Kamu turun, dan aku menghampirimu... aku memberikan sebotol Daud Parfume untukmu. kujabat erat tanganmu sekali lagi, dan untuk sebotol Daud Parfume itu kukatakan, agar kamu ingat terus sama aku saat kita jauh, ciiee... jhahaa... :v ;) (Saat itu sebenarnya ingin sekali kupeluk, biar kayak di pilm-pilm gitu, tapi aku pikir-pikir lagi, emang gwe cowok apaan? :v ) dengan setengah terpaksa sebenarnya, aku menyuruhmu untuk naik ke Bus lagi, karena memang Bus akan segera laju.
Kami ‘pulang’ ke Ma’had dengan segala canda yang kami punya, tentu saja sesekali dengan mengingatmu lewat pembicaraan-pembicaraan haru, sepi, dan... aku tahu, kamu pasti jauh lebih sedih, lebih sesak menahan napas, juga panas dingin menahan airmata agar tak meleleh, apalagi saat tiba-tiba kamu mengirimkan pesan singkat tentang permohonan maaf dan juga salam buat teman-teman, kuyakin saat itu kamu sedang menangis (lagi), ‘kan? :D ;)
(“Aku nangis, Din. Nggak kuat, L :’( “)
[Percayalah, do’aku; do’a kami di nadimu...]
(“---“)
[“---“]
(“Udah, Din, jangan dibalas terus... L :’( ”)
Aku juga minta maaf, ya; jelas sekali aku banyak salah sama kamu; dari sini, kamu jadi tahu, ‘kan, aku ini orangnya teramat sangat menyebalkan, terkadang bego dan plin-plan, :v dan yang paling parah... suka sekali hutang tanpa aturan. Jhahaa... (Yang terakhir, mohon dimaafkan dan dimaklumi, ya... ;) ) sekali lagi, “Selamat Jalan, Kawan; Semoga Selamat Sampai Tujuan” [*]

Al-Ihya, 22 Juni 2016*
*Beserta coretan untuk sahabat(ku), @Khusni_Tamimudin, kuucapkan Happy Birth Day to @Agnas_Faisal yang ke-22; Barakallaahuliwalakum. Aamiiin... J

Muhrodin “AM”


Laki-laki penyuka senja dan hujan, terkadang juga penyuka kesendirian setelah bersama teman-teman tersayang, baginya berdo’a adalah cara terbaik untuk jatuh cinta sekaligus mendo’akannya dari kejauhan. J ;)


Rintik Kenangan
Pagi ini
Gerimis merintik di pelataran
Bunyinya begitu sepi. Menyenandungkan kidung puisi; menyayat hati...
“Tahukah kamu, Za. Rindu selalu hadir bersama rintik hujan. Begitupun kenangan.”
Kujamah bayangmu meski bagai angin lalu
Kupeluk dirimu dalam do’a paling syahdu...
“Adakah engkau mengerti... ada hati yang diam-diam merindukanmu. Diam-diam...”
Karena dalam diam
Aku merayakan kenangan bersama --rintik-- hujan
Merayakan rindu dalam kesakitan
Tentu, ini sakit yang paling nikmat, bukan?
PPAI, April 2016*

Rindu
Seperti hari kemarin
Hari ini, hadirmu masih kurindui
Bersama angin yang menggugurkan daun-daun sepi
Kularungkan do’a-do’a paling puisi
Kuharap kau lekas kembali...
; ...
PPAI, April 2016*

Malam dalam Bait Imrithi
Nadzham itu
Saat malam berkelindan
Gaung, suara paling syahdu didengungkan
Khusyu’; khidmat dalam perenungan
Begitu Merdu...
Mencairkan airata haru
Kalamuhum lafdzun mufidun musnadu # Wal kilmatu lafzul mufidul mufrodu*
Adakah yang lebih mengharukan daripada malam khataman?
Perlahan, jemaah terdiam; gigil
Kemudian, beku; dalam dingin yang menyihir...
PPAI, April 2016*
*Nazdam Al-Imrithi, bait 20

Mustaq Jiddan*
Aku mafhum!
Tiadamu di sisiku selaksa api membakar sebatang cigaret
Musnah tak bersisa.
Menguap tanpa meninggalkan jejaknya
Dan...
Adamu di sisiku
Laksana embun yang menyejukkan
Bagai Oase di gurun Savana
Gersang, namun, akhirnya mendamaikan!
Itu saja...
Sebab, saat ini yang paling nikmat
Adalah merasakan luka
Tersebab rindu yang tak pernah purna; rindu tak ber-mu-a-ra...
PPAI, April 2016*
*Rindu Berat


Muhrodin “AM”, adalah laki-laki penyuka senja dan hujan. Lahir di Lampung 23 Februari 1991. Bergiat di Buletin INSPIRASI sejak tahun 2010.
Saat ini masih tercatat sebagai santri di Pon-pes Al-Ihya ‘Ulumaddin, Kesugihan, Cilacap.


X-Steel - Link Select

About this blog

Diberdayakan oleh Blogger.